Sekolah adalah sebuah kebangaan. Atas nama pendidikan, sekolah menjadi peletak dasar kemajuan bangsa. Bersekolah bagaikan mencari sumber mata air di puncak-puncak gunung. Pencapaiannya harus dinikmati dengan berbagai rintangannya. Satu kata untuk berdiri diatas puncak itu yaitu belajar. Belajar adalah kata hati yang alamiah. Banyak orang- orang yang mau belajar tetapi mereka tak sanggup bersekolah. Anak-anak kurang mampu yang hanya berharap sentuhan asa dari pemegang kebijakan, lalu merasa belajar bukanlah miliknya.
Namun apa jadinya jika banyak yang bersekolah tetapi sesungguhnya tak (serius) belajar ? Lalu untuk siapakah sekolah dan dimanakah hendaknya tempat belajar itu dicari ? Para anak-anak miskin telah menyebutkan dirinya dalam sekolah. Dan diantara mereka, sejarah membubuhkan namanya dengan gelar-gelar pendidikan formal. Di pentas keilmuan, mereka menorehkan segudang prestasi. Tahukah kita, bahwa sebagian dari pencapaian itu adalah semangat yang terbangun karena ingin melawan ketidakmampuan materi dan himpitan ekonomi. Yang sesungguhnya mereka melawan nasibnya. Hingga mereka melawan negaranya untuk memerdekan negaranya.
Belajar itu bagaikan menuntun diri, dan disampingnya juga ‘melawan’ diri. Lawan itu bukan hal yang sulit dan bukan pula mudah. Lawan itu menjadi kawan ketika kata belajar adalah perpaduan sadar atas makna belajar. Sebab kita tidak akan berhenti melawan, karena itu akan sama dengan ‘berhenti belajar’. Maka teruslah belajar, seperti mengejar bayanganmu yang kadang didepan, dibelakang, disampingmu atau mungkin dibawah kakimu. Tapi bayangan yang diatas kepalamu atau didalam kepalamu adalah bayangan yang mengiringimu untuk belajar. Satu-satunya yang menghentikan bayanganmu adalah lenyapnya cahaya didalam dirimu. Dirimu adalah kuasaNya. Satu- satunya hal yang pergi meninggalkan untuk belajar adalah ketika jam sekolah telah tiada seperti bel yang dibunyikan sebagai tanda pulang sekolah. Bel itu adalah waktu yang menjadi alarm, yang padanya juga mengatakan bahwa anda sudah tidak punya waktu untuk belajar. Sekarang kita akan ujian. Kita semua tidak sanggup lagi sekedar berkata “aku ingin belajar”. Belajar ternyata seperti cahaya yang terpantul pada air di mata-air. (irs)