Tanah di perluas dan manusia menjadi berlipat ganda.
Tanah pun berteriak marah seperti seekor banteng,
Dewa merasa terganggu oleh teriakan itu.
Enlil mendengar keributan itu.
Dan mengirim Dewa Agung; “kebisingan manusia menjadi terlalu kuat bagi saya, mendengar teriakan mereka saya sulit tidur” (Epos Atrahasis dalam Babylonia)
Manusia adalah tanah yang sempurna. Tiupan roh yang abstrak, menyatu dengan fisik dan akan kembali kehadirat-Nya. Segumpal daging terbentuk, setelah sebelumnya melewati pergulatan terdalam dari sari pati tanah. Seonggok nafas lalu mencari siapa dan dimana tanahnya dilahirkan.
Selengkapnya Baca di Koran Tempo